Cerpen : Seberkas tentangmu

Sri Inayati / January 31, 2018, 20:01:43 pm

Hembusan angin menerpa jilbab yang Shofia kenakan. Ia begitu betah menatap lautan yang ada di hadapannya. Laut itu seolah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Percikan air laut yang mengenai kaus kakinya tak lagi ia perdulikan.

Siapa Aku?

Apa yang telah terjadi padaku lima tahun terakhir ini?

Mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya?

Pertanyaan itu memenuhi pikiran Shofia. sudah setahun lebih ia kehilangan sebagian ingatannya. Ingatan yang mungkin tidak seharusnya ia lupakan. Ia hanya mampu mengingat sebatas masa SMA. Entah sudah berapa banyak orang yang telah ia temui setelah itu, namun ia harus melupakan semuanya begitu saja.

Matahari yang perlahan hilang dari pandangannya mengisyaratkan ia untuk pulang ke rumah. Dengan perlahan ia melaju meninggalkan pantai itu menggunakan Sky, sepeda motor berwarna biru yang selalu menemaninya kemana-mana.

Sesampainya di rumah, ia langsung disambut dengan pelukan yang dilayangkan oleh ibunya. Wanita paruh baya itu kelihatan begitu khawatir terhadap Shofia.

“Kamu kemana saja, nak?” tanyanya yang masih mengenakan mukenah. Sepertinya ia baru selesai menunaikan sholat magrib.

“Aku dari pantai bu,” jawab Sofia berusaha meredakan kekhawatiran ibunya. “Aku sholat dulu ya, bu. Nanti keburu isya lagi.” Sofia lalu meninggalkan ibunya dan langsung menuju kamar untuk menunaikan kewajibannya.

***

Aku hanya ingin melihat, seperti apa takdir bekerja. Akankah ia mempertemukan kita lagi kelak dan seperti apa ia mempermalukan waktu juga jarak yang telah memisahkan kita. Seperti katamu, kelak kita akan bertemu, terlepas dari apakah kamu memang seseorang yang ditakdirkan menjadi masa depanku, atau kau memang pantas menjadi masa lalu.

Shofia bangun dengan peluh yang bercucuran membasahi wajahnya. Lagi-lagi ia memimpikan hal yang sama. Tentang seorang pria yang entah mengapa memilih untuk meninggalkannya.

“Are you okay?” tanya seseorang yang sekarang tengah duduk di sebuah sofa panjang yang ada di kamar Shofia.

“Yes. I am.” Sepertinya Shofia tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran Haura di kamarnya sepagi ini.

Haura adalah satu-satunya sahabat yang dimiliki Shofia. Haura adalah seorang desainer baju muslimah. Pekerjaanya yang tidak terikat waktu membuatnya bisa menyempatkan diri untuk berolahraga dan kemudian mengunjungi Shofia setiap hari. Tidak mengherankan jika ia telah berada di kamar Shofia pada pukul lima dini hari seperti saat ini.

“Aku ingin sholat dulu, kamu jangan kemana-mana ya. Ada yang ingin aku ceritakan.”

Haura hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Shofia kemudian bergegas menunaikan sholat subuh dengan khusuk. Tak butuh waktu lama, Shofia telah selesai dengan kewajibannya dan langsung merapikan kembali mukenah yang tadi ia gunakan.

Ia langsung mendudukkan diri di samping Haura. “Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Haura to the point.

“Maaf kalau aku baru bisa menceritakan hal ini padamu sekarang. Sebenarnya semenjak ingatanku hilang aku sering memimpikan seseorang. Aku tak tahu pasti siapa orang itu. Yang aku tahu dia seorang pria. Dan setiap kali aku memimpikannya, dia selalu mengatakan sesuatu.”

“Sesuatu? Apa itu?” tanya Haura dengan kedua alis yang bertaut.

“Kau tahu, karena aku begitu sering memimpikan orang ituaku bahkan menghafal kata demi kata yang ia ucapkan. Ia lalu kata demi kata yang ia dengar di mimpinya. Apa menurutmu hal ini tidak aneh?”

“Menurutku hal itu biasa saja. pria itu mungkin adalah salah satu bagian dari ingatanmu yang hilang. Dan mungkin dia adalah salah satu sosok yang seharusnya tidak kamu lupakan.” Jawab Haura enteng.

“Apa menurutmu ada seseorang yang mencintaiku? Atau mungkin yang aku cintai?”

“Aku tak begitu yakin. Seingatku dari awal kita bertemu sampai saat ini kamu tidak pernah menceritakan nama seorang pria sekalipun. Apa kamu lupa saat kita masih SMA, aku mengenalkanmu dengan senior kita dan kamu langsung mengacuhkannya. Jujur aku masih saja merasa besalah padanya.”

Shofia tiba-tiba saja terbahak mendengar penuturan Haura. Ia mengingat kembali seperti apa juteknya seorang Shofia Diandra jika berurusan dengan makhluk bernama laki-laki.

“Apa kau tahu seperti apa rupa laki-laki itu?” tanya Haura di sela tawa sahabatnya. Shofia langsung terdiam. Ia seperti mencoba untuk mengingat seperti apa sosok yang sering ia temui dalam mimpinya.

“Dia tampan, alisnya yang lebat menambah kesan tegas bada wajahnya. Tetapi wajah itu begitu teduh. Seperti aku sedang berada di bawah pohon yang rindang. Apa jangan-jangan dia seorang malaikat?”

Alis Haura langsung bertautan begitu mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan sahabatnya. “Sudahlah, hentikan fantasimu yang berlebihan. Mana mungkin kau menemui seorang malaikat?”

Shofia hanya menyegir kuda. Benar kata sahabatnya, mana mungkin ia menemui seorang malaikat yang berkata hal semacam itu kepadanya. Itu benar-benar tidak masuk akal.

“Dari pada kau menghayal yang tidak-tidak, bagaimana kalau kita bersepeda? Sudah lama sekali kita tida bersepeda bersama ke pantai. Bukankah itu tempat favoritmu?”

Tanpa pikir panjang, Shofia langsung menyetujui usul sahabatnya. Keduanya langsung bergegas menuju garasi untuk mengambil sepeda. Sepasang sahabat itu mengayuh sepeda mereka dengan lembut. Keduanya mencoba menikmati sejuknya udara pagi dengan kicau burung yang seolah tengah bernyanyi.
Tak butuh waktu lama, mereka langsung di sambut oleh hembusan angin begitu sampai ke tepian pantai. Tidak banyak orang di sana. pantai itu biasanya baru akan ramai ketika petang. Di sana akan banyak pedagaang kaki lima yang menjajalkan berbagai makanan dan suvenir.

Ia menatap ke arah laut biru. Merasa diperhatikan ia lalu mengalihkan pandangannya kearah barat. Seorang pria tengah berdiri di sana. ia menatap pri itu lama, seperti pernah bertemu dengannya di suatu tempat.

Perlahan, kakinya melangkah menuju pria itu, pria itupun tak bergerak seincipun dari tempatnya. Menyadari sahabatnya tengah berjalan sendiri, Haura lalu mengikuti langkah Shofia. perlahan tapi pasti, Shofia terus berjalan tanpa memperdulikan Haura yang memanggilnya dari belakang.

“Kau…”

Shofia tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia langsung jatuh tak sadarkan diri melihat sosok yang berdiri di hadapannya saat ini. Haura yang melihat itu sontak berlari menuju Shofia. Dengan segera ia membawa Shofia pada sebuah rumah sakit. Ia sangat khawatir apabila terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya.

Lima jam berlalu semenjak Haura membawa Shofia ke rumah sakit, namun Shofia belum juga sadarkan diri. Ibunya hanya menangis memandang wajah anak semata wayangnya itu kembali terbaring lemah dengan infus yang tertancap di tangannya.

“Shofia.. bangun, nak.”

Kalimat itu berkali-kali diucapkan oleh wanita paruh baya itu. Haura tak kuasa melihat pemandangan di hadapannya. Ia lalu berpamitan untuk keluar. Ia tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Berkat gagasannya, Shofia terbaring di rumah sakit saat ini.

“Dokter.. dokter.. cepat kemari!”

Suara ibu Shofia mengentikan lamunan Haura. Ia langsung bergegas kembali ke kamar di mana Shofia dirawat. Seorang dokter terlihat sudah ada di sana sedang memeriksa keadaan Shofia. Gadis itu tengah menyebut-nyebut sebuah nama dalam tidurnya.

“Siapa itu Yusuf? Sepertinya dia sosok yang begitu berharga bagi pasien. Apa bisa kalian membawanya ke sini? Mungkin dengan begitu pasien akan segera menyadarkan diri.”

Setelah mendengar penuturan dokter, entah mengapa Haura menangkap perubahan yang sangat drastis pada ekspresi wajah ibu Shofia. Wanita paruh baya itu seperti menyembunyikan sesuatu. Begitu dokter berpamitan keluar. Wanita itu lalu menyerahkan kertas dengan sebuah alamat yang tertulis di atasnya.

“Tolong bawa Yusuf ke sini. Tolong beri tahu dia mengenai kondisi Shofia.”
Haura sedikit bingung, namun ia tetap menganbil sepotong kertas itu. Ia lalu membacanya dengan seksama. Beruntung dia tahu di mana tepatnya alamat itu. Ia lalu bergegas ke sana secepat yang ia bisa.

Sepertinya keberuntungan belum berpihak padanya. Hanya ada rumah kosong di sana. sepertinya penghuninya sedang keluar.

“Bagaimana ini? Di mana sebenarnya dia? Ayo Haura berpikir! Apa mungkin?”

Haura lalu membalik arah mobilnya. Ia langsung menuju ke arah pantai tempat Shofia jatuh tak sadarkan diri. Dicarinya sosok yang beberapa jam lalu ia temui. Tetap saja, hasilnya nihil. Ia tak menemukan siapa-siapa di sana.

Dengan kecewa ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Namun begitu ia berbalik, ia bertubrukan dengan seseorang.

“Maaf. Aku tak sengaja.” Ujarnya kalut.
Matanya langsung membelalak begitu melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.

“Yusuf?”

Pria itu lalu tersenyum ramah kepadanya. Haura lalu menceritakan kondisi Shofia. keduanya langsung bergegas menuju rumah sakit. Begitu sampai di sana Haura lalu membawa Yusuf ke ruangan anggrek, tempat Shofia dirawat.

Air mata Yusuf tak bisa terbendung begitu melihat Shofia. Ia lalu meraih jemari Shofia yang dingin, dengan lirih ia memanggil nama gadis itu, berharap ia cepat menyadarkan diri. Benar saja tak butuh waktu lama, mata Shofia perlahan terbuka.

“Yusuf?” panggil Shofia lirih.

“Iya. Ini aku.”

“Jangan pergi lagi, kumohon.”

“Tidak akan.” Jawab Yusuf dengan senyum yang merekah di wajahnya.

“Apa hanya aku di sini yang tak paham dengan apa yang terjadi?” Haura tiba-tiba saja menyela perbincangan Shofia dan Yusuf. Ibu Shofia lalu menariknya keluar.

“Ada apa, bu?” tanya Haura begitu mereka sampai ke taman belakang rumah sakit.

“Bukannya kamu ingin mengetahui apa yang terjadi?”

“Tentu”.

Ibu Shofia menarik nafasnya, “Lima tahu lalu saat kalian telah lulus SMA, Shofia bertemu dengan Yusuf. Saat itu kamu sudah berada di luar negeri. Itu mengapa kamu tidak mengenali Yusuf. Shofia juga hanya menceitakan mengenai Yusuf pada ibu.”

“Yusuf adalah anak seorang petani yang merantau ke sini. Shofia adalah satu-satunya anak ibu. Ibu tak ingin dia sampai salah memilih pasangan hidup. Ibu juga telah berpikir untuk menjodohkannya dengan anak dari seorang konglomerat. Tapi tetap saja, ibu bukan Tuhan yang mampu mengubah perasaan seseorang, sekalipun itu adalah perasaan anak ibu sendiri. Ibu bahkan pernah meminta Yusuf untuk meninggalkan Shofia dan ia melakukannya. Itu semua karena ibu mengancam akan menyuruh orang menyakiti kedua orang tuanya. Sampai setahun yang lalu, Shofia mengalami kecelakaan. Ia tidak fokus mengendarai mobilnya, karena mengingat Yusuf. Itu semua ulah ibu sehingga anak ibu sampai kehilangan ingatannya.”

“Ibu sempat senang saat dokter mengatakan bahwa Shofia kehilangan sebagian ingatannya. Ibu mengira dia akan kehilangan cintanya terhadap Yusuf. Tapi ternyata cinta itu masih ada di hatinya. ibu menyesal memisahkan mereka. Ibu tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya. Cukup sudah ibu membuat Shofia menderita. Shofia berhak bahagia dengan orang yang dicintainya.”

Setelah menceritakan semuanya, wanita paruh baya itu terisak sejadi-jadinya. Ia begitu menyesal dengan apa yang telah terjadi. Sudah cukup baginya membuat anak semata wayangnya itu terluka. Sekarang hanya kebahagiaan Shofia yang ia inginkan.

“Percayalah bu, aku akan membahagiakannya. Aku akan membahagiakan Shofia.” Ujar Yusuf yang datang bersama Shofia yang terduduk di kursi roda.

“Aku sekarang, bukan hanya sekedar anak petani lagi. Karena anak ibu, aku bisa seperti ini. Dia gadis luar biasa yang pernah kutemui. Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkannya lagi, aku tidak akan mengecewakannya.”

Senyum mereka merekah bersama. Kesabaran selalu berbuah manis seperti biasa. Semanis akhir cerita mereka.