Cerpen : Arti Kehilangan

Sri Inayati / March 17, 2018, 14:03:15 pm

Seorang gadis berjalan perlahan menapaki rerumputan hijau yang telah tertata rapi. Di tangannya tergenggam sebuket bunga mawar putih. Matanya menerawang menatap lingkungan di sekitarnya. Begitu damai dan tenang. Angin pun bergerak dengan sangat pelan. Tidak ada tanaman yang mencolok. Tanah lapang yang menggambarkan kedamaian, juga kesedihan.

“Assalamualaikum,” bisiknya hangat sambil meletakan sebuket mawar pada nisan di hadapannya. Suaranya jelas menggambarkan kesedihan.

“Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu,” kata Qisthi tertahan. Matanya menatap pilu pada nama Faruq yang terukir indah di batu nisan. Butiran bening menggenang di mata keabu-abuan miliknya.

“Ya Allah…!” teriak Qisthi disertai tangis yang tak mampu ia bendung. Air matanya terus mengalir deras melewati bukit pipi.

“Mengapa kau meninggalkanku secepat ini!?” teriaknya lagi.

Isaknya tak juga kunjung berhenti. Ingatannya mereka kembali waktu kebersamaannya dengan Faruq yang kini tak akan mungkin terulang kembali. Pandangannya tiba-tiba buyar, seketika Qisthi jatuh tak sadarkan diri di tanah.

____

Mata Qisthi membuka perlahan, ia mencoba menyesuaiakan dengan cahaya yang ada.

“Di mana aku?”

“Kau di rumahku,” ujar seorang wanita berkerudung putih yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

Qisthi berusaha bangkit dari tidurnya, namun seketika ia merasa kepalanya berat.

“Jangan bangun dulu, kau belum benar-benar sehat. “ ujar wanita itu lagi.

“Siapa kau? Bagaimana aku bisa berada di sini?”

“Namaku Syifa, aku seorang dokter. Pagi tadi aku mendapatimu tak sadarkan diri di pemakaman. Maaf sebelumnya karena telah lancang membawamu ke sini. Aku hanya tidak tahu harus membawamu ke mana.” Jelas Syifa panjang lebar. Qisthi akhirnya mengingat apa yang telah terjadi padanya.

“Terima kasih. Oh ya, sekarang pukul berapa?”

“Sekarang pukul 08.00 malam. Kau belum makan seharian, sebaiknya kau makanlah dulu. Aku telah menyiapkannya untukmu,” jawab Syifa sambil menunjuk sebuah nampan yang berisi makanan.

”Terima kasih. Tapi aku harus pulang. Orang tuaku pasti sangat khawatir terhadapku.”

“Tidak. Untuk malam ini menginaplah di sini. “

Setelah berpikir, Qisthi pun mengiyakan perkataan Syifa. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Qisthi kemudian berjalan di sekitar kolam yang berada tepat di samping kamarnya. Ia menyusuri tepian kolam sendiri. Air yang berada di tepian kolam membuat Qisthi hampir tercebur kedalam kolam kalau saja tangan seseorang tidak cepat-cepat menariknya. Tatapan keduanya bertemu.

Malam itu hujan mendadak turun dengan derasnya membasahi bumi. Bintang dan bulan ikut bersembunyi, menambah sepi. Tak ada kata, tak juga suara dari keduanya. Mereka seolah terhipnotis oleh rinai hujan.

“Ekhem…” suara deheman Syifa membuyarkan lamunan keduanya.

“Apa kalian ingin hujan-hujanan terus? Ayo masuk. Nanti kalian bisa sakit.” Ujarnya sambil menahan senyum.

Qisthi yang menyadari tangannya tengah digenggam seseorang tiba-tiba saja langsung menarik kembali tangannya dan segera masuk ke rumah. Pipinya memancarkan rona kemerahan. Tak jauh berbeda dengannya Arsil pun menunjukkan ekspresi yang sama.

“Aku kembali ke kamar saja, ya” ujarnya yang kemudian bergegas ke kamar.

Syifa hanya membalasnya dengan senyuman. Tak berapa lama, Arsil kemudian menanyakan tentang Qisthi kepada adiknya itu.

“Siapa dia?” Arsil terlihat penasaran.

“Namanya Qisthi, aku menemukannya tengah tak sadarkan diri ketika berziarah ke makam ayah dan ibu pagi tadi. Mas Arsil jangan macam-macam loh ya, dia itu tamuku.” Syifah mengakhiri ucapannya dengan cekikikan.

“Apaan sih, Dek. Ya tidak mungkin juga Kakak macam-macamin dia.” Balas Arsil sambil mencubit pipi saudarinya itu.

“Sudah, dari pada kamu mikirin yang tidak mungkin terjadi, mending kamu istirahat, gih.” Ujar Arsil lagi.

Syifa hanya mengangguk tanda setuju. Ia pun bergerak menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara di sisi lain. Qisthi tengah terduduk di sebuah sofa yang terletak di sudut kamar.

Tatapannya kosong, pikirannya hanya mengarah pada sosok Faruq.

“Seandainya kamu masih di sini,” ujarnya membatin.

Butiran air matanya menetes lagi. Kali ini sepertinya ia tak mau berhenti. perlahan kakinya mengarah ke arah jendela. dipandangi olehnya hamparan langit luas tanpa bintang. Hanya ada hitam yang teramat kelam.

____

Sinar mentari pagi yang mengintip lewat jendela, membawa kehangatan sendiri bagi Qisthi. Ia telah bangun sejak subuh tadi. Ia ingin segera kembali ke rumahnya.

“Assalamualaikum,” suara Syifa menyapa di balik pintu.

“Waalaikumsalam, sebentar Syif.” Jawab Qisthi sambil membenarkan jilbab yang tengah ia kenakan. Ia kemudian membuka pintu kamarnya.

“Eh, pagi-pagi udah rapi. Ayo kita sarapan bersama dulu.”

Qishi hanya mengikuti langkah Syifa menuju meja makan. Di sana terlihat Arsil sudah duduk sambil mengoleskan selai coklat ke rotinya. Matanya tiba-tiba saja tertumbuk pada sosok Qisthi yang menuju ke arahnya. Entah mengapa, saat melihat Qisthi irama jantung Arsil menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

“Mata Mas bisa-bisa copot loh nanti, kalau keterusan mandangin Qisthi.” Canda Syifa.

Arsil mendadang salah tingkah mendapati candaan Syifa terhadapnya. Sedangkan Qisthi hanya tersenyum tertahan.

Selepas sarapan, Arsil lalu bergegas ke kantornya. Ia adalah seorang CEO di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Sebelum berangkat, ia lalu berpamitan pada Syifa.

“Aku berangkat dulu ya,” ujarnya.

“Hati-hati di jalan ya, Mas.” Balas Syifa.

Arsil lalu memandang Qisthi yang hanya memberinya senyuman. Tapi entah mengapa, Arsil merasa bahwa senyuman itu lebih baik untuknya hari ini.

Setelah Arsil berangkat, tak berselang lama Qisthi pun berpamitan pada Syifa. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Syifa dan memberikannya kartu namanya.

“Kapan-kapan main ke rumahku ya,” ujar Qisthi tulus.

“Insya Allah. Mas Arsil boleh aku ajak, kan?” tanya Syifa dengan senyum jahilnya.

Qisthi hanya tersenyum. Ia lalu pulang menggunakan taksi yang dipesannya secara online. Setelah kepulangan Qisthi, Syifa baru mengetahui bahwa Qisthi adalah salah seorang CEO pada salah satu perusahaan Wedding Organizer.

Hari berganti bulan menjadi tahun. Tak terasa, setahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Sejak saat itu Qisthi dan Syifa menjadi kian akrab. Tak jarang keduanya bertemu untuk menghabiskan waktu bersama. Qisthi pun perlahan mampu melupakan Faruq seutuhnya.

“Ibu, ini ada beberapa berkas yang harus ibu tanda tangani.” Ujar Sekertaris Qisthi. Ia lalu meraih setumpuk berkas dan membukanya satu-persatu.

“Bagaimana jadwalku hari ini?” tangannya masih berkutat dengan berkas.

“Hari ini ibu dijadwalkan untuk meeting pada pukul sepuluh nanti.” Jawab sekertarisnya.

“Baiklah. Tolong persiapkan segalanya dengan baik.” Ujarnya lagi. Sekertarisnya pun meninggalkannya.

Setelah Qisthi menyelesaikan tugasnya. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu di ruang pertemuan.

Ruang pertemuan itu ia rancang dengan suasana out door yang membuat siapa saja akan betah berlama-lama di sana.
Tak lama ia menunggu, sekertarisnya pun datang bersama seorang pemuda yang sepertinya tak asing di penglihatannya.

“Mas Arsil…” ujarnya begitu melihat pemuda itu.

“Qisthi? Wah… kebetulan sekali,” ada binar yang sulit diartikan tergambar pada wajah Arsil begitu ia menyadari bahwa yang menjadi rekan kerjanya kali ini adalah Qisthi.

“Mari Mas, silahkan duduk.” Ujar Qisthi kemudian. Setelah keduanya duduk, mereka lalu mulai membicarakan tentang pekerjaan.

“Baiklah, maafkan aku sebelumnya karena langsung memintamu sebagai CEO yang mengurusi hal ini. Tapi aku ingin pernikahan ini berjalan dengan sangat baik sehingga aku ingin kau sendiri yang mengerjakannya selaku CEO.” Ada rasa yang mengganjal yang timbul di hati Qisthi begitu ia mendengar penuturan Arsil.

“Pernikahan? Apa dia akan menikah?” ujarnya membatin. Namun profesionalitas tetap ia jaga seperti apapun kondisinya.

Pertemuan tersebut berlangsung cukup lama. Pernikahan itu akan dilaksanakan tepat sebulan dari sekarang. Segalanya segera mereka persiapkan. Mulai dari undangan sampai tempat dan tema pernikahan.

Tak terasa waktu berlalu, besok adalah hari pernikahan itu. Segalanya telah mereka persiapkan dengan baik. Namun tidak demikian dengan hati Qisthi. Hatinya sedang tak baik-baik saja. Saat sedang memikirkan acara pernikahan Arsil, tiba-tiba saja ponselnya bordering menampilkan sebuah nama.

Perasaannya campur aduk antara senang bercampur sedih sekaligus. Dengan segenap keberanian, ia lalu mengangkat panggilan tersebut.

“Assalamualaikum. Maaf ada apa, Mas?” tanya Qisthi to the point.

“Waalaikumsalam. Aku hanya ingin bertanya, bagaimana persiapan untuk besok? Aku ingin semuanya sempurna.”

“Apa mas tidak mempercayaiku? Semuanya sudah aku kerjakan sendiri.” Qisthi sedikit kesal.

“Baiklah. Satu lagi, aku akan menunggu kehadiranmu besok. Jangan sampai tidak hadir. Bye. Assalamualaikum.”

Belum sempat Qisthi menjawab, panggilan tersebut telah diputus sepihak oleh Arsil. Perasaan sedih mendominasi hatinya saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa hadir dalam acara pernikahan itu? Memikirkannya saja sudah membuat hatinya bak ditusuk sembilu.

“Ada apa sebenarnya dengan hatiku?” Qisthi kembali membatin.

Keesokan harinya, dengan rasa bimbang dalam hati, dia memberanikan diri mengenakan sebuah gaun biru bercorak putih yang sangat cantik untuk menghadiri acara pernikahan Arsil. Namun ia mengutuk dirinya sendiri saat ia menyadari bahwa pernikahannya akan dimulai sebentar lagi.

Qisthi hadir sangat terlambat, ia baru tiba tepat saat kedua mempelai ingin melemparkan buket bunga mereka. Tanpa ia duga, ia berhasil menangkap buket bunga tersebut bersama seseorang.

“Mas Arsil? Apa yang Mas lakukan?” tanyanya saat menyadari bahwa yang berhasil menangkap buket bunga tersebut bersamanya adalah Arsil.

“Apa ada yang salah?” bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan Qisthi, Arsil malah balik bertanya kepadanya.

“Sepertinya, kau dan Masku akan segera menyusul Mas Arsil dan Mbak Sarah.” Ujar Syifa tiba-tiba.

“Apa maksudmu? Bukannya Mas Arsil yang melangsungkan pernikahan hari ini? Sebenarnya ada apa ini?” Qisthi tak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Sepertinya ada yang sudah salah paham, sebaiknya Mas saja yang menjelaskannya.” Ujar Syifa lagi.

Qisthi lalu berbalik pada Arsil, “Aku butuh penjelasan.”

“Baiklah. Seperti yang Syifa bilang, hari ini adalah hari pernikahan Arsil dan Sarah. Tapi bukan aku Arsilnya. Tapi sepupuku yang kebetulan memiliki nama yang sama denganku. Aku dimintai oleh Arsil untuk mengurusi segala yang berkaitan dengan pernikahannya. Aku tak menyangka pada akhirnya kau akan salah paham karenanya.” Qisthi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia berusaha menyembunyikan rasa malunya.

“Apa kau tak memeriksa nama dalam undangan yang kau buat? Yang tertera di sana adalah nama ‘Arsil Hakim’, sedangkan namaku adalah Muhammad Arsil Abdullah. Apa kau lupa dengan nama calon suamimu sendiri?” ujar Arsil melanjutkan.
Kedua alis Qisthi bertaut ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Arsil.

“Ca..calon suami?” ia sampai-sampai terbata mengucap kata.

”Mas Arsil sebenarnya telah lama menginginkanmu sebagai istrinya,” jawab Syifa mewakili. Qisthi hanya terdiam, ia tidak pernah menyangka skenario yang ditetapkan Allah untuknya akan membawanya pada kebahagiaan. Kehilangan yang pernah dia rasakan, diganti dengan berjuta kali bahagia.

“Benar. Maaf karena tanpa persetujuanmu aku telah menemui kedua orang tuamu. Alhamdulillah, mereka telah menyetujuinya. Sekarang yang kutunggu tinggal jawabanmu.”

Qisthi menarik napas dalam, “Bismillahirrahmanirrahim. Aku menerimanya.”

Akhir dari majelis pernikahan tersebut menjadi haru. Siapa sangka kehilangan terkadang bisa saja merupakan jalan untuk membawa kita pada seseorang yang namanya telah disandingkan untuk kita di langit sana.